Membangun Generasi Hebat Lewat Temu Penegak Pandega Nasional

Sako SPN menggelar Temu Penegak Pandega Nasional pada 25-27 Agustus 2017. Acara ini melibatkan sekitar 700 peserta penegak dan pandega dari 11 provinsi. Acara ini yang berlokasi di Pusdiklat Senkom, Sawangan, Bogor itu berakhir pada Minggu (27/08).

Acara ini bertujuan melatih para penegak dan pandega dalam hal hard skill maupun soft skill. Dengan target para peserta dapat berkontribusi kepada lingkungan rumah maupun masyarakat. Para peserta diberikan berbagai kemampuan, dari kemandirian hingga tata cara ibadah, “Sako SPN adalah gerakan Pramuka yang berbasis masjid dan pesantren. Untuk itu tanda kecakapan khusus dan umum disesuaikan dengan kecakapan dalam hal beribadah,” papar Edwin Sumiroza Ketua Sako SPN.

Sementara pelatihan yang diberikan dalam bentuk how to know (mengenali), how to share (berbagi), how to contribute (kontribusi), how to created (merancang), dan how to problem solved (mengatasi masalah). Kelima kategori tersebut masih terbagi lagi dalam 15 jenis kegiatan atau keterampilan yang diikuti para peserta baik indoor maupun outdoor.

Keterampilan tersebut antara lain scuba diving, panahan, pengetahuan sepeda gunung, mountaineering atau pendakian, pelatihan pemadaman api dan penanggulangan kebakaran, teknologi tepat guna, fotografi jurnalistik, pembuatan kompos, pengetahuan ekosistem pesisir pantai, pendirian kemah mandiri, agama (perawatan jenazah dan nasehat), keterampilan memasak, kearifan budaya lokal serta beauty class untuk peserta putri.

“Kami ingin menyampaikan kepada para penegak dan pandega mengenai isu lingkungan yakni pengelolaan sampah, bagaimana anak-anak muda itu bisa menghasilkan uang dari sampah. Juga menyadarkan pengetahuan geografis yakni ekologi bahari seperti ekosistem pesisir pantai, berkontribusi dari sisi ‘dakwah’ yang menyadari lingkungannya,” jelas Edwin.

Generasi Sadar Informasi

Dalam kesempatan itu, Sako SPN juga memberikan materi sosial media. Menurut Edwin, teknologi informasi dan komunukasi cenderung menjadikan pemuda Indonesia hanya sebagai penikmat atau penonton. Mereka hanya menikmati informasi yang dikemas dan ditampilkan menarik, tanpa mengerti pesan yang dikandung di dalamnya.

Konten tersebut menjadi candu dan membuat ketagihan. Sehingga dijadikan rujukan dan terkesan ‘mendewakan’, sehingga melupakan tugasnya sebagai seorang pemuda yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Sebagai pengingat bagi para peserta juga Pembina Pramuka, bahwa ada upaya melemahkan kepribadian generasi muda Indonesia melalui informasi yang merusak,” kata Edwin Sumiroza.

Acara ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang hebat yang berkarakter kuat, untuk membangun Indonesia pada masa mendatang. Yang menjadikan Indonesia sebagai negara beradab dan bermartabat. (Noni)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*