100 Pramuka Sako SPN Disiapkan Jadi Pemimpin

Sekitar 100 Pramuka tingkat Penegak-Pandega menjadi peserta acara Leadership Development Program yang diadakan DPW LDII Banten. Acara ini dimulai pada 25 November 2017, saat pukul 08.00  semua peserta tiba di Stasiun Rangkasbitung menggunakan kereta api dari berbagai arah kota di Banten.

Bepergian menggunakan transportasi publik ini mengajarkan beberapa hal seperti harus peduli dengan orang lain, selain menjaga ketertiban, juga harus menjadi pelopor menawarkan tempat duduk dan menawarkan bantuan membawa barang bagi penumpang yang memerlukan, saling sapa dengan peserta dari kontingen lain. Semua melengkapi pengalaman ini menjadi media pembelajaran efektif. Peserta yang terbagi dalam beberapa sangga putra dan putri, yang didampingi pembina masing masing langsung mengikuti pengembaraan kota.

Peserta diwajibkan melalui berbagai tantangan seperti membeli aneka kue tradisional Banten khususnya Lebak. Di Museum Multatuli, peserta belajar sejarah tentang keberanian seorang asisten residen Lebak pada masa penjajahan, yang bernama Eduard Douwes Dekker. Karya tulisnya mengungkap dan membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Berjalan kaki blusukan melalui beberapa pos mengantar peserta mengenal situasi Kota Rangkasbitung. Pengembaraan kota berakhir di lokasi acara Bakti Sosial DPD LDII Kabupaten Lebak dalam rangka menyambut HUT Kabupaten Lebak. Peserta berpartisipasi bersama warga dan para tokoh pemerintahan dan warga pada acara Bazar Baju Barokah, Bazar Murah Bahan Pokok, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Kampanye Kesehatan Gigi dan melakukan Donor Darah. Kegiatan di Baksos ini melengkapi pemenuhan  Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka Penegak-Pandega secara lengkap dalam area spiritual, emosional, sosial intelektual dan fisik.

Hanya sejenak beristirahat setelah bakti sosial selesai, peserta  melanjutkan perjalanan pengembaraan ke Desa Baduy, di Kanekes. Perjalanan ini bukan khusus wisata, melainkan  kegiatan edukasi budaya sekaligus nation building. Peserta dalam format sangga putra dan putri didampingi pembina pendamping masing masing mendaki pegunungan Baduy dan bermalam di Kampung  Gajeboh. Dengan bermalam di Kampung gajeboh, peserta dapat berinteraksi dengan warga Baduy, berusaha mengenal kearifan warga Baduy yang bersahaja. Mereka mampu bertahan hidup dengan peradaban sederhana, berdampingan dengan alam secara harmoni selama berabad abad lamanya.  Di kampung ini peserta melakukan bakti sosial, mengkampanyekan Save Baduy Bersih kepada para tamu dan turis. Dalam acara ini 100 orang peserta memungut sampah di sepanjang perjalanan pulang menuju Ciboleger, pintu masuk Kampung Wisata Baduy.

Kegiatan memungut sampah ini membuat pengunjung dan turis lain secara spontan mawas diri dan ikut serta memunguti sampah di sepanjang jalan. Warga Baduy hidup bukan dari kunjungan wisata. Mereka tidak seperti penghuni kebun binatang yang menggantungkan perutnya dari hasil penjualan tiket masuk.  Hanya dari kemurahan alam, suku Baduy bergantung dengan bercocok tanam dan menabung hasil panennya. Telah terbukti cukup untuk menopang kehidupan mereka bertahun tahun bahkan lumbung padi mereka dirasa cukup memenuhi kebutuhan hidup bertahun tahun kedepan. Mereka tetap  tidak bersekolah, mandi hanya di kali Ciujung, tidak menggunakan listrik, tidak beralas kaki dan terus bertahan konsisten meyakini adat istiadat warisan leluhur mereka. Kami mah teu sakola, tapi kudu nyakola (Kami tidak bersekolah tetapi kami harus berpendidikan), itu pesan dari leluhur mereka yang membawa mereka mencapai kesederhanaan tingkat tinggi.

Pengalaman pengembaraan ini mengajarkan beberapa hal kepada peserta, di mana perlunya terampil berpikir memahami sebuah situasi (critical thingking) dan perlu mandiri didalam mengatasi persoalan bersama (problem solving skill) dan pada akhirnya secara besama sama (team working) memberikan kontribusi kepada lingkungannya.

Demikian memang beberapa hal yang di desain oleh DPW LDII Banten dalam Leadership Development Program yang dikemas dalam perjalanan pengembaraan. Belajar dari pengalaman dipandang efektif terutama bagi peserta generasi muda, yang perlu dipersiapkan selain faqih alim juga memiliki akhlaqul karim serta pribadi yang mandiri. Kami mendengar, kami lupa.Kami melihat, kami ingat. Kami mengalami, kami memahami. (Edwin Sumiroza)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*