Hybrid Professionalism dalam Kegiatan Pramuka

Jakarta (6/1) Sako SPN mengadakan Forum Group Discussion sebagai awal kegiatan di tahun 2019. Kegiatan ini bertempat di Sanggar Utama Sako SPN yang dihadiri oleh pemimpin Sako SPN Edwin Sumiroza dan pengurus-pengurus Sako SPN se-Jabodetabek, Serang dan Cilegon.

Diskusi diawali dengan pembukaan kegiatan oleh ka Edwin, kemudian pemaparan materi tentang “Hybrid Professionalism dalam menghadapi Era Disrupsi 4.0” yang dibawakan oleh ka Dody selaku Sekretaris Sako SPN. Materi ini merupakan gambaran awal untuk Sako SPN melaksanakan program kerja yang selanjutnya. Dimana Era 4.0 ini teknologi sudah berkembang pesat sehingga dibutuhkan keterampilan hidup dan karir yang akan menjadi asset berharga untuk peserta didik.

Hybrid Professionalism adalah seorang yang memiliki keterampilan lebih dari satu termasuk keterampilan IT yang banyak dicari oleh banyak organisasi. Generasi profesional ini unggul dalam disiplin pemasaran inti, penulis yang sangat mahir, analitis dan ahli teknologi dengan pemahaman kuat tentang bisnis, TI dan perilaku manusia. Kemampuan ini sangat dibutuhkan seseorang dalam menghadapi era 4.0 yang mana seseorang mampu melakukan kegiatan yang mendorong hasil bisnis nyata.

Pemaparan ini menggambarkan bahwa hybrid Professionalism sudah ada di dalam Pramuka hanya saja masih belum berkembang secara detail. Pramuka itu berkarakter, lebih cakap, berprestasi, dan peduli. Hal ini menjadi acuan Sako SPN untuk dapat mengembangkan peserta didik untuk memiliki kemampuan tersebut sehingga menghasilkan peserta didik yang siap untuk menghadapi tantangan zaman dan dapat mengubah dunia.

“Jika ingin mengubah dunia, kita harus membuat gagasan baru atau produk baru dari hasil kreatifitas sendiri.” Ujar Ka Dody.

Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari Pramuka. Apapun yang seorang anak pramuka lakukan dalam setiap kegiatan dalam kepramukaan memiliki makna yang harus dipahami dan menjadi contoh untuk kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang seharusnya seorang Pembina sampaikan pada peserta didiknya. Pembina harus dapat menyampaikan setiap makna dari setiap kegiatan, karena dari penyampaian tersebut akan menjadi acuan dan pembelajaran bagi peserta didik untuk lebih peduli dalam mengembangkan karakter mereka. Ini merupakan amanah bagi Sako yang harus disampaikan kepada peserta didik. Tetapi kurangnya pembinaan dan pengetahuan Pembina akan hal ini menjadi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut.

Diskusi ini bertujuan agar Sako SPN mempersiapkan diri di era 4.0 untuk memiliki peserta didik yang memiliki nilai-nlai karakteristik yang professional religius, terampil dan mandiri.

Maka dari itu Sako SPN akan memfokuskan untuk mengadakan pembinaan pada Pembina seluruh Sako SPN di Indonesia berupa KMD, KML, KPD dan KPL untuk memberikan pemahaman yang dalam bahwa Pramuka itu merupakan ujung tombak untuk pendidikan peserta didik di LDII. Pembina pun akan lebih paham bagaimana membina peserta didik dari siaga hingga pandega karena Pembina akan menjadi pengajar yang baik dan contoh bagi seorang peserta didik dalam membentuk karakter. Prakteknya adalah hasil atau evaluasi dari peserta didik yang mereka bina yang kemudian diseragamkan kembali dengan antar Sako SPN di seluruh Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*